-->
Pasang Iklan/Promo/Launching Produk/Langganan Pemberitaan/Realease/Press Conference/100 Berita Peristiwa Ter Update Setiap hari





Loading

Derita Petani, Petani Menjerit Harga pupuk Mencekik Harga Panen Jungkir Balik

- November 03, 2021



PURWOREJO - Banyak orang bilang Indonesia adalah tanah yang subur, ibarat tanam tongkatpun jadi tanaman, namun seiring perubahan kultur tanah akibat limbah bahan-bahan kimia sehingga faktor penggembur tanah seperti cacing tanah dll musnah. 

Oleh karena itu para petani sangatlah memerlukan pupuk sebagai salah satu cara termudah dengan harapan tanamnya menjadi subur dan  tidak gagal panen.

Namun pada kenyataannya kelangkaan pupuk, subsidi pupuk dari pemerintah yang dicabut, dan *"Harga PUPUK yang SETINGGI LANGIT"* menjadikan derita para Petani. 

Ditambah dengan hasil panen yang berkurang dan tingkat harga jual hasil panen yang rendah menjadikan para Petani menangis,menjerit,meronta merasakan keadaan sekarang, ditambah lagi adanya pademi Covid19 sehingga tidak memungkinkan para Petani pindah ke pekerjaan lain.

Oleh karenanya Para Petani berharap pihak Pemerintah dalam hal ini Kementrian Pertanian/Dinas Pertanian harus turun tangan baik langsung maupun melalui lembaga Survey untuk menindak para pengepul/pedagang pupuk yang telah memonopoli pupuk dan bertindak curang sehingga harga pupuk bisa kembali di jangkau oleh para Petani.

Untuk Pupuk Urea saja yang ukuran 50 kg/sak  harga non subsidi ada yang  Rp.350.000,- harga bervariasi belum Ponska,NPK dan lainnya. Ini diluar harga penggarapan lahan.  

Padahal per 1 ha lahan butuh ± 3 - 4 sak pupuk urea yang 50 kg. Masih ditambah pupuk Ponska, NPK,pupuk buah juga obat pemberantas hama total biaya bisa puluhan juta rupiah.

Sedangkan bila tanam padi per 1 hektar lahan biasanya hanya menghasilkan 1,2 ton itu bila beruntung tidak ada hama maupun kendala lainnya seperti bencana banjir.

Hasil padi/gabah kering di pembeli biasanya diharga antara Rp.4.600,-/kg contoh  di x 1.2 ton = Rp. 5.520.000,- ini menunggu panen ± 3 bln bila dikurangi pemakaian pupuk dan biaya para buruh tani kotor di bagi 3 bln maka hasilnya Petani masih merugi dan belum sejahtera.

Nah karena  cenderung merugi untuk membayar para pekerja tani, dan pembelian pupuk yang harganya sangat tidak bersahabat, kata salah seorang petani daerah Purworejo dan perlu adanya solusi agar tanah kembali subur dan tentunya rakyat jadi makmur.  (Syarif A.R)

 

Start typing and press Enter to search