-->
Pasang Iklan/Promo/Launching Produk/Langganan Pemberitaan/Realease/Press Conference/100 Berita Peristiwa Ter Update Setiap hari





Loading

Sejarah Ikon Kampung Tahu, Ini Harapan Pemkot Kediri

- November 07, 2021



KEDIRI_JAWA TIMUR

jawatimurnews.com - Salah ikon yang di miliki daerah Kediri Jawa Timur yaitu, tahu takwa yang sejak ada di tahun 1912, silam. Saat itu, tahu takwa di daerah Kediri telah sudah mengalami berbagai macam perkembangan. Di mulai segi cara memproduksi, pembuatan, dan teknis berjualan, atau lain sebagainya.

Maka dari itu, simak secara seksama dalam mengetahui tentang seputar tahu takwa. Menelisik sejarah tahu takwa itu awal mula, adanya imigran suku Tiongkok yang datang di Kediri pada tahun 1900, silam.

Dengan kebiasaan warga imigran Tiongkok itu jika ada perayaan, mereka membuat olahan tahu tersebut. Konok dahulu, daerah Kediri belum ada orang-orang memproduksi tahu. Ketika warga Tiongkok melihat tekstur air antara Kediri dan Tiongkok di rasanya sama, ke dari situ mereka tertarik memproduksi tahu.

Pada sejarah Chu Ku Fei dari Negara China, berawal warga Tiongkok membuat tahu berwarna putih. Namun, melihat daerah Kediri mayoritas memiliki identik segi bangunan bernuansa kuning sepanjang jalan. Maka, dibuat tahu kuning sebagai simbol hubungan antara Tiongkok dan Kediri. Selain itu, tahu kuning bisa juga disebut dengan tahu takwa.

Nama itu Tahu Takwa, berasal dari suku Hokkian yang bernama “Kwa”. Sehingga, dengan adanya peleburan pelugatan dari Tiongkok ke Jawa penyebutan tersebut menjadi “Takwa”.

Daerah Kediri kini memiliki obyek wisata sebagai sentra pembuatan tahu takwa, yaitu kampung tahu Tinalan yang tepatnya di wilayah Kota Kediri. Kampung tersebut sudah ada sejak tahun 1950an, silam. Akan tetapi baru berdiri sejak di resmikan oleh Wali Kota Kediri terdahulu adalah, Samsul Ashar pada bulan Agustus tahun 2019, lalu.

Kampung Tinalan Kota Kediri sendiri berlokasi di Kelurahan Tinalan Gang 4, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Jawa Timur, Minggu (7/11/2021).

Sementara, Jamal Ketua Paguyuban Kampung Tahu mengatakan, dulunya kampung tahu ini mayoritas penduduknya kebanyakan profesinya sebagai pengrajin dan penjual tahu.

Selanjutnya, seiring perkembangan zaman. Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri melihat potensi di miliki daerah itu untuk dijadikan obyek wisata dan sekaligus pusat pengrajin tahu.

"Kalau produksi tahunya sendiri, sejak turun temurun dari keluarga hingga sudah sampai generasi ketiga, yang salah satunya termasuk saya," ungkapnya.

Jamal memaparkan, produk yang ditawarkan di kampung tahu sendiri dahulunya, yakni tahu sayur biasa atau tahu putih. Segi cara berjualannya masih dilakukan berkeliling menggunakan sepeda dari kampung ke kampung lain. Tapi, setelah beberapa orang mengikuti pelatihan dari Pemkot Kediri, mereka memulai merambah pembuatan Tahu Takwa," terangnya.

Kemudian, sambungnya, terus mengalami perkembangan juga bermunculan berbagai produk tahu sampai sekarang ini. Antara lain, tahu takwa, stik tahu, tahu walik, tahu coklat dan masih banyak lagi.

Untuk proses pembuatan tahu takwa tidak berubah. Namun, hanya saja segi peralatan digunakan lebih modern dan mempermudah dalam pembuatan tahu tersebut.

Dahulunya, pembuatan tahu telah menggunakan batu sebagai penindih. Namun, seiring saat ini sudah menggunakan alat press jauh lebih efisien," ujar Jamal.

Perbedaan bahan antara pembuatan tahu sayur dan tahu takwa sangat terlihat banyak kedelai yang digunakan.  Dalam pembuatan tahu takwa, Jamal kembali mengatakan, telah membutuhkan lebih banyak bahan. Bahkan, hingga dua sampai tiga kali lipat perbandingan saat pembuatan tahu sayur.

Untuk tekstur tahu takwa, memiliki lebih padat serta kenyal hingga kadar air lebih rendah dari pada tahu sayur. Bahan kedelai yang dipergunakan, mayoritas penjual tahu menggunakan kedelai impor.

"Karena, sulitnya memasok kedelai lokal yang sebenarnya memiliki kualitas yang lebih bagus," tuturnya.

Dalam proses pemasaran, lanjut Jamal, dulu masyarakat melakukan penjualan secara konvensional seperti dipukul atau berkeliling memakai sepeda. Jarak ditempuh juga jauh bisa hingga wilayah Mrican dan Grogol. 

Namun, saat ini penjualan sudah dilakukan pada outlet atau di rumah masing-masing. Saat ini, penjualan sudah berkembang dan memiliki beberapa mitra yang salah satunya di daerah Kertosono," ucapnya.

Akan keberadaan Kampung Tahu ini pastinya tak lepas dari peranan dukungan Pemkot Kediri. Dimulai dari diadakan pelatihan, hingga bimbingan, yang hingga saat ini bisa menjadikan Kampung Tahu sebagai salah satu ikon di Kota Kediri," imbuh Jamal.

Ditempat terpisah, Kepala Seksi (Kasi) Produksi dan Pengembangan Usaha Mikro, Dinas Koperasi dan UMKM Kota Kediri, Agus Subono menyampaikan, keberadaan Kampung Tahu dulunya hanya memproduksi jenis tahu sayur saja.

Kemudian, salah satu penjual tahu mengikuti pelatihan yang diadakan Pemkot Kediri dan mendapat masukan dari berbagai pihak agar mereka mencoba untuk memproduksi Tahu Kuning atau tahu takwa.

Berkat dukungan dan motivasi yang diberikan inilah, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk mencoba memproduksi tahu takwa.

Selain itu, Pemkot Kediri juga memfasilitasi para penjual tahu untuk membantu promosi mereka dengan menggunakan website resmi dan mengupayakan mereka dapat bekerjasama dengan marketplace.

"Hal ini bertujuan untuk menjaga identitas atau ikon Kediri sebagai Kediri Kota Tahu," katanya.

Agus Subono juga berharap, agar penjual di Kampung Tahu bisa lebih berinovasi dari segi produksi, dan penjualan.

"Nantinya, Pemkot Kediri akan upaya bekerja sama dengan biro jasa perjalanan untuk menjadikan kampung tahu sebagai salah satu tujuan wisata," paparnya. (vn)

 

Start typing and press Enter to search