-->
Pasang Iklan/Promo/Launching Produk/Langganan Pemberitaan/Realease/Press Conference/100 Berita Peristiwa Ter Update Setiap hari



Loading

Islam Profetik dan Spiritualitas Keugaharian Dari Gereja di Indonesia Bisa Tumbuh Subur di Taman Persemaian Etika Moral serta Akhlak di Bumi Nusantara

- Saturday, December 25, 2021
Dilihat 0 x

 


SELAMAT PAGI JTN

jawatimurnews.com - Peta pemikiran keislaman di Indonesia pasti mengenal sosok Prof. Dr Kuntowijoyo, tentang Islam Profetik. Almarhum Kuntowijoyo telah mewarisi dua budaya Jawa yang adiluhung, Yogyakarta Hadiningrat dan Surakarta, karena putra kelahiran Yogyakarta, dia dibesarkan di Solo. 

Warna Pelangi budaya yang menghias histori perjalanan hidupnya menjadi sebuah bangunan dasar bagi kepribadian Kuntowijoyo kecil yang kemudian mengkristal pada pemikirannya yang memiliki perhatian sangat kuat terhadap pemerintah dan kondisi sosial masyarakat sekitarnya. Kontribusi intelektualnya antara lain gagasan pemikiran tentang Islam transformatif yang lebih popular disebut dalam istilah Islam Profetik. 

Cakupan pengertian Islam Profetik dapat dimaknai dengan menghadirkan Islam sebagai ilmu yang berpikir ilmiah terhadap Al-Qur'an, sekaligus meninggalkan cara berpikir berdasarkan mitos. Sehingga umat Islam lebih mampu berpikir secara empiris dalam memahami Al-Qur'an. Misalnya dengan mengembangkan penafsiran sosial struktural lebih dari sekedar penafsiran individual ketika memahami ketentuan-ketentuan tertentu dalam Al-Qur'an. 

Kecuali itu, kesadaran untuk mengubah cara perpikir subjektif untuk kemudian berpikir objektif. Hingga pada giliran berikutnya dapat memiliki kesadaran untuk mengubah pemahaman Islam secara normative, dan kemudian mampu menjadi menampilkan Islam yang lebih bersifat teoritis. Namun yang tidak kalah penting adalah mengubah pemahaman yang ahistoris menjadi historis. Sehingga kemudian dapat merumuskan formulasi-formulasi wahyu yang bersifat umum menjadi formulasi yang spesifik dan empirik.

Pada abad milenium sekarang ini, ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengalami lompatan-lompatan besar, seperti ditandai oleh peradaban manusia yang mengalami pergeseran yang sangat signifikan dalam berbagai bidang kehidupan.

Peradaban dunia yang semakin kuat pergesekannya telah menempatkan manusia dalam kondisi global. Sehingga mengharuskan umat Islam mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan global tersebut. Untuk memahami realitas ini dapat dilakukan dengan mengelaborasi ajaran agama ke dalam bentuk-bentuk teori sosial. 

Pemikiran atau konsep dari nilai-nilai profetik dalam perspektif Dr. Kuntowijoyo dan implikasinya terdiri dari nilai Humanisasi, Liberasi, Transendensi.

Implikasi dari nilai pfofetik, setidaknya mampu mewujudkan iman dan takwa yang kuat dalam menghadapi perkembangan global dan kecenderungan dari perkembangan dunia yang menaruh perhatian terhadap ketidak adilan dalam masyarakat agar bisa berpartisipasi aktif dalam pengembangan masyarakat dalam menghadapi tantangan jaman.

Ilmu Sosial Profetik (ISP) merupakan gagasan penting Kuntowijoyo yang bertujuan untuk transformasi sosial dengan paradigma profetik yang dapat dirumuskan menjadi tiga pilar sebagai pijakan, yaitu humanisasi, liberasi dan transendensi.

Metode strukturalisme yang digunakan untuk menganalisis realitas sosial yang mengakui bahwa secara epistemologi, ada tiga sumber pengetahuan yaitu realitas empiris, rasio serta wahyu. Adapun bangunan dari epistemologis tersebut lebih dekat dengan filsafat kritisisme Immanuel Kant yang berpandangan dualistik, seperti dalam ajarannya tentang moral.

Dari moral inilah Immanuel Kant berusaha membawa manusia menuju sebuah kesadaran akan adanya realitas yang mampu memahami nomena, sebuah spirit transenden yang dapat melihat setiap fenomena dan menemukan apa yang ada dibaliknya sebagai sebuah kebenaran ataupun nomena.

Sejalan dengan gagasan pemikiran Islam Profetik, tampaknya tidak jauh berjarak dengan napa yang dimaksudkan oleh Eko Sriyanto Galgendu yang begitu bersemangat membangun gerakan kebangkitkan kesadaran dan pemahaman spiritual bangsa Indonesia untuk berada pada posisi terdepan dalam struktur membangun konstruksi peradaban baru manusia di bumi.

Kegelisan global – bukan hanya di Indonesia –adalah terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang ditenggarai menjadi salah satu sumber masalah sosial dengan potensinya yang sangat merusak masyarakat-- seperti ditandai oleh munculnya orang berilmu, akan tetapi tidak memiliki etika, tidak memiliki moralitas serta akhlak sehingga tidak mempunyai rasa tanggung jawab sosial dan moral. 

Jadi konsepsi bangunan keilmuan yang ideal harus dimiliki oleh setiap orang dengan dasar etika, moral dan akhlak yang baik dan terjaga. Maka amanlah dunia dari kegaduhan.

Sintesa epistimologi ilmu pengetahuan menurut al-Faruqi yang memiliki tesis berupa prinsip dasar Islamisasi pengetahuan adalah kesatuan Tuhan, kesatuan alam, kesatuan kebenaran dan pengetahuan, kesatuan hidup, dan kesatuan umat manusia.

Kuntowijoyo menawarkan methodological objectivism, seraya menolak methodological secularism dengan membawa alternatif ilmu sosial profetik.

Dari persinggungan pemikiran kedua tokoh tersebut dapatlah diharap menjadi alternatif jawab dari persoalan ilmu dan moralitas yang meliputi etika dan akhlakul karimah, yaitu suatu aturan atau norma yang mengatur hubungan antar sesama manusia dengan Tuhan dan alam semesta.

Menurut Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulum al din mengatakan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa sehingga menimbulkan bermacam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Sedangkan ketinggian budi pekerti atau dalam bahasa Arab disebut akhlakul karimah yang terdapat pada seseorang adalah yang menjadi pijakan bagi seseorang dalam melaksanakan kewajiban dengan baik dan sempurna secara konsisten.

Sebaliknya, bagi manusia yang buruk akhlaknya, ia akan selalu resah dan gelisah sepanjang hidupnya sampai tersungkur ke liang kubur.

Dalam versi Kristiani (Spiritualitas Keugaharian : Membangun upaya membangun Demokrasi Yang Adil Bagi Semua. (Pdt. Zakaria J. Ngelow, Berita Oikoumene, Februari 2019). Adapun tugas panggilan gereja untuk berperan serta dan melayani itu dapat dilihat dari beberapa segi yang saling memperkuat dan saling memperkaya; dari segi tanggung jawab untuk mengelola, memelihara dan melestarikan ciptaan Allah (bdk, Kej. 1 :26-28; Mzm. 8). 

Dari segi Pemberitaan Injil, untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah yang telah datang, dan telah berada diantara kita dan sedang dinantikan kegenapannya dalam “langit yang baru dan bumi yang baru, dimana terdapat kebenaran” Ibdk. 2 Ptr. 3 : 13). Dari segi tanggung jawab untuk mengusahakan agar kehidupan masyarakat bisa didasarkan atas keadilan dan kesejahteraan bagi semua orang tanpa membedakan suku, ras, agama, budaya sebagai wujud Kasih Allah bagi dunia (bdk. Yer, 22: 3; Am. 5: 15-24).

Menurut Pdt. Zakaria J. Ngelow, pada saatnya gereja harus berani menyampaikan suara kenabian kepada pemegang kekuasaan yang melalaikan panggilan-Nya. Tentu saja yang sangat ditunggu-tunggu dari beberapa gereja yang telah menyusun Pengakuan Gereja (Konfesi) atau Pokok-pokok ajaran yang diantaranya berisi rumusan mengenai negara, pemerintah atau politik. 

Yang lebih gamblang adalah Pengakuan Gereja Toraja (1981), “Pemerintah dan Lembaga-lembaganya adalah alat di tangan Tuhan untuk menyelenggarakan kesejahteraan, keadilan dan kebenaran serta memerangi kejahatan sebagai tanggung jawab kepada Tuhan dan kepada Rakyat”.

Tujuh Pokok Ajaran GKE (2010) mencatat mengenai Hubungan Gereja dan Politik, antara lain supaya Gereja membina dan mendorong warganya dalam kegiatan berpolitik untuk dapat menjauhkan diri dari berbagai praktek yang mengakibatkan erosi spiritual, dekadensi moral dan kekaburan etis tentang kebenaran. 

Dalam spiritualitas keugaharian ikhwal penyimpangan panggilan politik dan pelayanan masyarakat menjadi penggunaan kekuasaan untuk kepentingan diri atau kelompok sendiri, erat kaitannya dengan kerakusan menusia untuk terus memiliki lebih dari yang diperlukan – yang telah melembaga -- dalam sistem ekonomi neoliberalisme. Maka Gerakan keesaan gereja-gereja di Indonesia mengupayakan solusinya. Dalam PTPB 2014-2019, gereja-gereja anggota PGI sudah mengedepankan spiritualitas keugaharian.

Gejala yang tampak nyata dari proses pembangunan di Indonesia, kata Pdt. Zakaria J. Ngelow menjadi tantangan bagi gereja-gereja untuk segera mengembangkan spiritualitas keugaharian yang memupuk etos kerja dan hidup berkecukupan (bdk. Amsal 30:8) guna melawan arus konsumerisme  dan keserakahan serta gaya dan pola hidup yang ramah lingkungan untuk terus diperjuangkan agar seluruh alam ciptaan Tuhan dapat menjadi rumah (oikos) bagi seluruh makhluk. Dan yang bersifat ke dalam bagi gereja adalah spiritualistas yang  menghendaki agar gereja-gereja bisa berfungsi sebagai “komunitas moral” dimana proses deliberalisasi moral bersama dapat berlangsung, sehingga warisan kesalehan gereja-gereja dapat mempunyai dampak sosial. 

Sedangkan untuk yang bersifat ke luar; perjuangan untuk menemukan hal-hal yang bersifat publik harus terus berkembang dan dikembangkan sebagai upaya alternatif yang perlu disokong oleh gereja-gereja yang ada. Sehingga seruan dapat menjadi “panggilan bersama agama-agama” untuk memuliakan kehidupan manusia. Karena itu, menurut dia, spiritualitas keugaharian ini membutuhkan struktur-struktur pendukung, diantaranya yang utama dalam hal pendanaan. Sebab liputan dari spiritualitas keugaharian, kata Pdt. Zakaria J. Ngelow menganjurkan tiga tindakan strategis dalam rangka politik keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat. Dan seruan untuk mengkampanyekan spiritualitas keugaharian, tentu harus dimulai oleh setiap orang dan dari dirinya sendiri.

Demikain juga dengan Islam Profetik serta Spiritualitas Keugaharian versi gereja-gereja di Indonesia bisa tumbuh subur di taman persemaian etika dan moral di bumi Nusantara. 

Jakarta, 15 Desember 2021


Pewarta : Apin

 

Start typing and press Enter to search

a