-->
Pasang Iklan/Promo/Launching Produk/Langganan Pemberitaan/Realease/Press Conference/100 Berita Peristiwa Ter Update Setiap hari





Loading

Yenny Wahid ; Pemimpin Harus Mampu Mengelola Perbedaan

- November 17, 2021



JAKARTA

jawatimurnews.com - Menjadi seorang pemimpin, baik itu pemimpin sebuah perusahaan maupun organisasi memang bukan sesuatu yang mudah. Banyak tantangan yang akan dihadapi, terutama berkaitan dengan perbedaan yang bisa muncul baik antara pemimpin dengan bawahanya atau karyawan dengan karyawan lainnya.

Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid mengatakan perbedaan adalah hal yang fitrah dalam diri manusia. Jangan sampai hal tersebut menjadi hambatan majunya sebuah organisasi atau perusahaan.

Untuk menghadapi perbedaan itu, menurut Yenny adalah bagaimana seorang pemimpin mengelola perbedaan yang ada di karyawan atau anggota organisasinya.

“Perbedaan harus dikelola agar menjadi faktor yang menguatkan kita,” kata Yenny dalam acara The Bridge 2021 yang digelar secara daring, Sabtu (13/11).

The Bridge adalah sebuah kegiatan konferensi yang digelar secara virtual. Kegiatan ini digelar untuk mendorong para pemikir muda agar bisa berjalan dengan tangguh dan memiliki keinginan untuk mengeluarkan potensi mereka.

Dalam konferensi ini para pemikir muda juga diberi akses untuk meningkatkan keterampilan dan menghubungkan mereka dengan ahli-ahli terbaik dari berbagai industri.

Salah satu pembicara yang hadir dalam kegiatan ini adalah Yenny Wahid. Dalam pernyataanya dia mengatakan hal utama yang mestinya dimiliki seorang pemimpin adalah skill komunikasi yang baik.

Tentunya komunikasi ini tak hanya kemampuan berbicara di depan umum atau di depan karyawannya. Kemampuan komunikasi yang baik justru kemampuan mendengarkan.

Bukan hanya mendengarkan secara pasif, tapi mendengarkan yang sebenar-benarnya mendengarkan.

“Kemampuan mendengarkan bukan hanya mendengar yang pasif tapi mengerti sudut pandang orang yang sedang berbicara dengan kita,” katanya.

Seorang pemimpin menurut Yenny harus mengerti dan memahami paradigma yang menjadi nilai dari orang yang bekerja dengannya. Ini juga berkaitan dengan kesabaran untuk mendengarkan satu sama lain dan menerima setiap perbedaan yang muncul.

Selanjutnya adalah mempertahankan visi dan misi perusahaan atau organisasi dengan cara menyamakan persepektif dan tujuan. Hal ini juga bisa dilakukan dengan berpegang teguh pada aturan atau AD/ART sebuah organisasi yang dibangun bersama-sama.

“Bicara mengenai apa yang harus dilakukan, semua orang pasti punya sudut pandang berbeda, tapi anggaplah hal itu sebagai hal yang bisa memperkaya organisasi,” katanya.



(Ranti)

 

Start typing and press Enter to search