-->
Pasang Iklan/Promo/Launching Produk/Langganan Pemberitaan/Realease/Press Conference/100 Berita Peristiwa Ter Update Setiap hari





Loading

Pendidikan Ibarat Pohon

- October 30, 2021



BIMA - Pendidikan Karakter itu yang harus segera diperkuat, mengingat saat ini banyak sekali kejadian yang tergambar dan lahir dari generasi Bima. Mulai dari maraknya soal pencabulan, narkoba,kekerasan, curas, bunuh diri hingga demokrasi yang kebablasan.

“sungguh ini memprihatin kan, kita kehilangan kejatidirian Ke Bimaan kita,”ujar Dr. Ahmadin .

Generasi milenial asal Kecamatan Langgudu memiliki cita-cita untuk mendidik anak-anak generasi Bima mejadi generasi Muslim yang beriman kepada Allah, beramal saleh dengan adab yang tinggi.

Untuk mewujudkan hal tersebut, maka hal pertama yang perlu dilakukan adalah penguatan di bidang pendidikan.

Pendidikan itu seperti menanam pohon. akan membuat hidup kita nyaman, menjadi rindang, sejuk udaranya.

Ia mengatakan menanam pohon itu bukan hanya masalah bibit yang bagus dan kesungguhan penanamnya, tetapi juga kesungguhan guru-guru dan lingkungan yang mendukung.

Setelah menanam mereka dengan sungguh-sungguh akan tumbuh batang yang besar dan pohon itu akan berbuah dan dalam Al Quran Surat Ibrahim : 24 dijelaskan begini itulah pohon yang baik akarnya menghujam ke bumi batangnya besar tinggi ke langit dan berbuah sepanjang musim. Nah inilah akhlak, kalau akar itu akidah, batang itu syariat makan buah itu akhlakul karimah. Kita berharap anak kita nanti akidahnya kuat syariatnya juga bagus dan buahnya juga menyenangkan banyak orang dan tidak pernah berhenti berbuah,” kata dia.

“ Saat ini bibit- bibit pohon layu, remuk, keropos, kekurangan nutrisi dan air akibat tanah yang kering kerontang. Inilah kekhawatiran saya,”ujarnya.

Kekhawatiran atas kondisi generasi daerah saat ini yang kian jauh meninggalkan karakter ke Bima an yang Ramah, Sholeh dan Soleha, berbudi pekerti sesuai dengan adat budaya Bima yang Islami.

Karenanya saat ini yang dibutuhkan adalah memperkuat konsep pendidikan yakni pendidikan karakter, paparnya.

Ia menguraikan bahwa membangun sebuah institusi pendidikan itu bagaikan kita menanam pohon, Awalnya kita bersusah payah menanam pohon. Lalu pohon itu akan tumbuh dan kita rawat lagi. Setelah besar, pohon itu akan menghasilkan oksigen dan menjadi pelindung bagi kita semua.

“pendidikan adalah harapan bagi sebuah kehidupan. Dengan menyelenggarakan pendidikan yang baik, kehidupan dan kesadaran anak-anak akan tumbuh dan berkembang secara bersamaan,”ujarnya.

Sementara itu mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Olah Raga Kabupaten Bima Drs. H.Zubair, M.Si mengatakan bahwa Esensi dari pendidikan adalah merubah perilaku buruk atau jelek karena ketidaktahuan atau ketidak mengertian menjadi perilaku yang baik karena tahu dan mengerti.

Jika dianalogikan sebagai pohon kehidupan maka hal ini diawali dengan mewariskan akar yang kuat sebagai prinsip atau pedoman moral, etika dan kematangan personal dan mengembangkan kanopi daun dan buah sebagai kompetensi yang dimiliki akibat dari kegiatan dididik.

Ketua Tim Pemenangan IDP-Dahlan ini menjelaskan bahwa manusia ibarat pohon, maka akar harus dikuatkan terlebih dahulu dan ini harus dimulai dari keluarga dan sedini mungkin, sehingga akan kokoh dan kuat dalam pertumbuhannya.

Akar mewakili dari prinsip hidup atau pedoman atau norma. Dan karena akar terpelihara dengan baik maka munculah daun dan buah sebagai dari hasil pendidikan yaitu kompetensi-kompetensi dan perubahan perilaku, dari yang tidak tahu menjadi tahu dan dilakukan. Kemudian dalam perjalanan kehidupan, apabila ada badai angin hujan yang menerpa (godaan mencontek, menyuap, korupsi, dll), maka pohon ini akan tetap tegar berdiri kokoh.

“ Coba dibayangkan apabila pohon ini tidak memiliki akar yang kuat, maka pohon akan mudah roboh. Demikianlah pendidikan kita, yang masih seolah-olah berfokus kepada kompetensi meskipun ada tujuan yang memperkuat akar. Contohnya di sekolah diajarkan untuk jujur, tidak mencontek, dll. Tapi karena harus kejar target lulus 100 persen, kita tidak abaikan nilai perilaku, “ ujarnya.

Ia bercerita bahwa dahulu ketika seorang anak memiliki perilaku yang buruk, tetapi cerdas dalam menyelesaikan latihan, maka nilainya dikurangi.oleh sebab itu sebaiknya ada kearifan lokal dalam dunia pendidkkan kita yakni memperkuat pendidikan karakter, akhlaq siswa dan siswi.

Jadi harus dimulai dari Pendidikan Usia Dini, disana ibarat benih yang ditanam dihalaman kebun atau sekolah, benih pohon yang menjadi akar pohon, kecambah pohon itulah SD, disinilah persemaian itu dimulai. Jadi Ibarat akar ia harus kuat agar mampu menopang badan pohon.

Sudah menjadi tanggung jawab semua elemen untuk mewariskan akar yang kuat dan menghasilkan buah yang baik kepada anak bangsa. Salah satu tanggung jawabnya itu ada di guru-guru.

Peran orang tuapun sangat menentukan, karena disanalah bibit dihasilkan. Sekolah ibarat lahan perkebunan. Jadi kebersamaan Orang Tua dan Guru. Harus ada upaya hubungan yang harmonis antara Guru dan Orang Tua. Sehingga dalam menyemaikan dan memelihara pohon yang ditaman itu terkontrol dan mampu dirawat bersama dengan baik. (Ranti)

 

Start typing and press Enter to search