-->
Pasang Iklan/Promo/Launching Produk/Langganan Pemberitaan/Realease/Press Conference/100 Berita Peristiwa Ter Update Setiap hari








Loading

Turpepel Dan Yakis : Hari Anti Korupsi

- Friday, December 10, 2021
Dilihat 0 x

  

ARTIKEL

TURPEPEL: Hari ini hari anti korupsi. Mengapa tikus selalu korupsi?

YAKIS: Karena tikus tidak punya rasa haru!

TURPEPEL: Mengapa tikus tidak punya rasa haru?

YAKIS: Karena tikus tidak pernah baca puisi dan karya-karya sastra pada umumnya!

TURPEPEL: Apa hubungannya?

YAKIS: Hubungannya intim sekali.  Sastra itu tak sekadar olah kata dan olah bahasa tetapi juga olah rasa, olah nurani, olah budi. Pada sastra ada latihan spiritual tiada henti.

TURPEPEL: Jadi, solusinya apa?

YAKIS: Hidupkan semua sendi kebudayaan yang luhur, nilai-nilai kearifan itu.

TURPEPEL: Apakah itu efektif?

YAKIS: Efektif, efisien, kuantitas, kualitas, pertumbuhan, semua itu tergantung pakai kacamata yang mana?

TURPEPEL: Kalau menurut kaca mata kebudayaan, bagaimana?

YAKIS: Kita ini bangsa agraris.  Budaya kita ya agraris, sastra kita juga agraris. Sudah lupa ya?  

TURPEPEL: Konkritnya bagaimana?

YAKIS: Kita sudah biasa menanam biji kecil, merawatnya dengan sayang, sampai tiba masa panen.  Ada panen dalam umur pendek, dan ada panen dalam umur panjang. Bahkan, terkadang kita yang tanam, cucu yang panen.  Itu sudah biasa sebagai orang agraris.

TURPEPEL: Pembicaraan kita makin melebar, tidak fokus.  Bukankah ini sudah out of the track!

YAKIS: Tentu tidak.  Kita masih on the track.  Tikus-tikus koruptor itu tidak punya jiwa agraris lagi.  Mereka ingin tanam hari ini langsung panen hari ini.   Sedangkan tauge, kacang tumbuh itu, butuh tiga hari untuk panen.  Tikus-tikus tidak punya kesabaran untuk mengumpulkan sedikit-sedikit.  Ingin cepat kaya, ingin cepat jaya, akhirnya malah payah.  

TURPEPEL: Jadi, apa yang harus kita lakukan di hari anti korupsi ini?

YAKIS: Ubah defenisi kesejahteraan, setidaknya sejahtera itu bukan tentang materi melainkan spiritual juga.  Hari ini, tikus-tikus hanya fokus di kesejahteraan material, memburu dengan seluruh jurus, bagai harus berjuang sampai titik darah penghabisan.  Akibatnya, mereka abaikan rasa haru dan rasa malu.  

TURPEPEL: Aduh, haru lagi, malu lagi.  Mengapa haru dan malu ditekankan di sini?

YAKIS: Kalau ada kesempatan untuk korupsi, tetapi tikus-tikus itu terharu saat hendak makan uang rakyat miskin, dia batal niat korupsi.  Kalau dia punya rasa malu, tentu akan membatalkan niat dan kesempatan.

TURPEPEL: Kalau penegakan hukum, bagimana?

YAKIS: Semua sama saja.  Hukum harus tegak.  Kalau tikus pergi menjadi penegak hukum, maka dia akan memakan tiang-tiang penegak hukum.

TURPEPEL: Ribet juga, ya?  Mengapa bisa begini?

YAKIS: Karena ini di republik tikus.  Tikus sedang berkuasa. 

TURPEPEL: Bandingkan Republik Tikus dengan Pulau Babi, mana yang masih lebih baik?

YAKIS: Lebih baik republik mimpi!


(Apin)

Batu Dua, 10 Desember 2021

 

Start typing and press Enter to search

a