-->
Pasang Iklan/Promo/Launching Produk/Langganan Pemberitaan/Realease/Press Conference/100 Berita Peristiwa Ter Update Setiap hari

Loading

Acara Renungan dan Do’a Bersama Kawan-kawan Aktivis Genap Setahun Wafatnya Doli Yatim

- Thursday, January 06, 2022
Dilihat 0 x

 


MENJELANG SENJA JTN

JAWATIMURNEWS.COM - Rabu Siang kemarin, 6 Januari 2022, kawan bowo (Setyo Wibowo) mengingatkan pada 19 Januari 2022 besok akan genap setahun meninggalnya sahabat Doli Yatim, seorang aktitis tangguh yang erat menggenggam perlunya konsep amandemen UUD 1945 agar dikaji ulang, kalua pun tidak bisa dikembalikan pada naskah aslinya seperti gagasan kawan-kawan aktivis lainnya. Setidaknya, sejak sekitar limabelas tahun silam ketika saya mengenal Doli Yatim yang selalu energik itu, almarhum sudah menggenggam draf naskah usulannya yang terus dia jajakan untuk diperjuangkan bersama perbaikannya. 

Alasan Doli Yatim yang utama kuingat adalah banyak sekali mudarat yang membentur kita dalam tata kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan sebagai seorang pekerja yang gigih, ia pun berani meninggalkan usaha jasa pengiriman barang yang tidak hanya sebatas di dalam negeri, tapi juga merayah ke berbagai negara di dunia.

Cerita sedikit tentang usahanya yang terbilang enak dan sudah mapan ini – bukan saja karena saya sendiri sempat ikut menikmati fasilitas yang suka rela disediakannya, tetapi untuk lebih meyakinkan bahwa sosok seorang Doli Yatim adalah seorang aktivis tulen yang konsisten dengan elan vital perjuangan yang dia lakukan. Begitulah kisah awal bersama Doli Yatim – yang diam-diam – mempertautlan kemistri antara kami sejak jumpa pertama di Forum Diskusi Mingguan di kediaman Hikmat Subawinata, di Kawasan Pasar Gembrong, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Kebersamaan dengan Doli Yatim menjadi semakin inten Ketika dia mengajak kalaborasi pemikiran dan gagasan dengan menfasilitasi pusat kegiatan yang menempati Rumah Susun di Kawasan Bidara Cina Jakarta Timur,  hingga beberapa tahun lamanya sampai menerbitkan Tabloid Mingguan yang dibiaya sepenuhnya dari usaha jasa pengiriman barang yang sempat melambung dan Berjaya Ketika itu. Dan sebagai aktivis, agaknya aktivitas kami seperti tidak ada hambatan, setidaknya dibanding dengan aktivis kebanyakan lainnya di Jakarta.

Gugahan saudara Bowo yang saya ketahui kemudian semakin akrab, agaknya dipertemukan oleh ide dan gagasan yang sejalan untuk melakukan revisi terhadap UUD 1945 yang telah diamandemen dengan semena-mena itu oleh Amin Rais CS. Tampaknya, akibat dari ulah Amin Rais itu – sebagai Ketua MPR RI yang menanda tangani perubuahan UUD 1945 melalui amandemen yang sungsang itu – semakin tidak mendapat tempat di kalangan kaum pergerakan yang menghendaki tata kehidupan berbangsa dan bernegara kita lebih baik dan lebih bermutu serta lebih bermartabat.

Bowo mengingatkan sekaligus mengusulkan agar kawan-kawan yang merasa senasib dan sepenanggulang dengan apa yang diperjuangkan Doli Yatim semasa hidupnya untuk melakukan semacam acara perenungan dan do’a bersama – meski tak perlu meriah dan mewah – yang penting hikmat dan menandai rasa kepedulian sesama kaum aktivis. Setidaknya dalam ikatan perkawanan setiap orang dapat mengingat bahwa pada akhirnya hidup kita pun akan berkahir juga kelak. Entah kapan.

Rencana acara mengenang setahun kepergian Doli Yatim pada 19 Januari 2022 sangat baik dan bagus untuk kawan-kawan dan keluarga yang ditanggal almarhum, sebagai ekspresi dari ikatan perkawanan dan persaudaraan, juga semacam upaya membangun jalan religius menuju terminal spiritual hingga dapat mendekatkan diri masing-masing pada Tuhan yang kita yakini sebagai pemilik kekusaan serta jagat raya dan seisinya, termasuk kita sebagai makhluk yang paling mulia di muka bumi.

Ajakan – kalua tidak boleh dikatakan sebagai teguran dari kawan Bowo -- untuk mengadakan acara do’a bersama bagi Saudara kita Doli Yatim, saya kira sangat baik dan bagus sebagai upaya memulai budaya baru memberi penghormatan dan penghargaan ala aktivitas yang dapat dilakukan dalam bentuk yang paling sederhana. Do’a yang dilakukan kawan-kawan pun kelak bisa diekspresikan dalam berbagai bentuk atau cara, sesuai dengan keyakinan dan keperyaan yang bisa membahagiakan almarhum dan kelaurga serta sahabat-sahabatnya.

Meski sejak awal – sehari sejak meninggalnya Saudara Dali Yatim saya sudah mengajukan gagasan untuk membukukan draf naskah yang telah dikumpulkan dan disususn untuk menjadi usulan guna memperbaiki UUD 1945 yang telah diamandemen itu – sehingga tidak saja kemudian dapat dijadikan pegangan bagi segenap bangsa dan negara Indonesia menata kehidupan yang lebih baik dan lebih beradab sesuai dengan cita-cita proklamasi 1945 yang telah diperjuangkan dengan segenap tetesan darah dan nyawa yang berjatuhan, tapi draf naskah yang dibukukan itu bisa menjadi semacam batu nisan pada saat kapan pun ziarah spiritual henak dilakukan.

Acara do’a bersama untuk Doli Yatim ideal sekali bila dirangkai dengan acara perenungan – dalam bentuk paparan singkat dari sejumlah kawan yang hadir untuk memberikan kesaksian ikhwal ketauladanan yang ditinggalkan Doli Yatim semasa hidup bersama kawan-kawan dalam berbagai kesempatan dan momentum, sehingga dapat memberi motivasi atau bahkan semacam evaluasi diri bagi kawan-kawan lain yang masih tetap istiqomah mendarma baktikan hidup dan segenap aktivitas kegiatannya demi dan untuk kemaslahatan bersama.

Saya yakin momentum penting dan bersejarah yang memiliki nilai religious dan muatan spiritual pada peringatan setahun wafatnya sehabat kita Doli Yatim akan menjadi tradisi baru sebagai bagian dari pilar-pilar peradaban yang harus segara kita dibangun juga agar tidak sampai tersesatan di persimpangan jalan yang semakin banyak menawarkan pilihan. Sementara kita tidak boleh melupakan sejarah dan tradisi warisan leluhur untuk senantiasa memuliakan sesama manusia di muka bumi. Apalagi unuk sahabat dan suadara kita Doli Yatim yang pernah bersama dalam suka dan duka.

Bagi saya pribadi, sesungguhnya dengan pemamparan gagasan dan usulan kawan-kawan pun, sebetulnya sudah lebih dari cukup. Karena sebagai penulis, pemaparan yang sudah diberikan sebagai keaksian termasuk yang baru saya tulis sekarang ini, cukuplah maknanya kelak menjadi bagian penghias batu nisan saya sendiri yang paling sedernaha sekalipun, seperti puisi kaum sufi yang dibisikkan angin dalam laku spiritual bersama Tuhan yang sesungguhnya setiap saat menyertai kita, sebelum akhirnya terbujur di liang kubur juga.

Jacob Ereste, Banten, 6 Januari 2021


Sumber : Jtn Media Network 

(Apin)

 

Start typing and press Enter to search

a