-->
Pasang Iklan/Promo/Launching Produk/Langganan Pemberitaan/Realease/Press Conference/100 Berita Peristiwa Ter Update Setiap hari








Loading

Karena Tyto Alba, Petani Gledeg Klaten Tak Lagi Takut Serangan Tikus

- Wednesday, January 19, 2022
Dilihat 0 x

 


KLATEN_JAWA TENGAH 

JAWATIMURNEWS.COM - Rumah burung hantu (rubuha) berdiri di lahan pertanian Desa Gledeg, Kecamatan Karanganom, Senin (17/1/2022).

Tyto alba menjadi penyelamat petani Gledeg dari serangan tikus. 

Selama beberapa tahun terakhir, petani di Desa Gledeg, Kecamatan Karanganom, Klaten, tak lagi dipusingkan serangan tikus di lahan pertanian mereka. Tyto alba atau Serak Jawa salah satu jenis burung hantu menjadi penyelamat petani mengendalikan tikus di persawahan.

Awalnya petani di Gledeg dibuat bingung dengan serangan tikus. Berbagai upaya mereka lakukan mulai dari penyemprotan pestisida hingga gotong royong untuk gropyokan memburu tikus. Namun, upaya itu tak membuahkan hasil. Efek gropyokan hanya sesaat, belum bisa mengendalikan polulasi tikus.

Selama dua tahun pada 2010-2011, petani mengalami gagal panen gegara serangan tikus. Hingga mereka mendapatkan informasi ihwal pemanfaatan Tyto alba sebagai predator alami untuk mengendalikan hama tikus di Desa Tlogoweru, Kabupaten Demak.

Sejumlah petani Gledeg secara mandiri menimba ilmu langsung ke ahlinya di Demak. Dua di antara rombongan petani yakni Agus Sri Haryana dan Awaludin Harhara, perangkat Desa Gledeg.  Setelah beberapa kali belajar ke Demak, petani menyadari Tyto alba yang selama ini bersarang di gedung TK setempat bermanfaat untuk mengendalikan tikus.

Mereka pun mulai mengaplikasikan ilmu yang diperoleh untuk membangun rumah burung hantu (rubuha) pada 2012.  Bermodal swadaya dengan urunan Rp20.000 per patok sawah, bantuan dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), petani mulai berikhtiar mendirikan rubuha. Berulang kali mereka mencoba membuat model rubuha agar bisa mengundang dan membikin Tyto alba yang terbang bebas betah bersarang di dalamnya.

Tidak hanya mengembangkan ru-buha, pemerintah desa setempat juga membuat Peraturan Desa (Perdes) No. 3/2012. Perdes itu dibuat untuk melarang perburuan satwa liar di wilayah Gledeg. Cara ini I sekaligus untuk melindungi Tyto alba.

Tyto alba mulai berkembang biak. Model rubuha bagian dalamnya dibuat tetap gelap saat siang dan dipasang pada tiang setinggi 4-5 meter membikin satwa tersebut betah bersarang di dalamnya.

“Jadi kami yang menyesuaikan dengan kemauan burungnya. Yang penting itu jangan diganggu.  



Populasi tikus bisa dikendalikan saat ini. Petani mulai menikmati hasil panen mereka seiring lahan pertanian mereka tak lagi diganggu tikus-tikus. Tyto alba sudah berkembang biak di wilayah Gledeg. Dalam semalam, seekor Tyto alba dapat mematikan 30 ekor tikus", kata Awaludin. 

“Yang perlu ditegaskan bahwa ini bukan cara untuk membasmi tikus. Tetapi mengendalikan populasi tikus,” kata Kadus 1 Desa Gledeg, Agus Sri Haryana.

Guna mendukung perkembangbiakan predator alami hama tikus, pemerintah desa mengalokasikan anggaran pada 2017 - 2018 untuk membangun rubuha permanen. Sudah ada 60 Rubuha sekarang dibangun dan tersebar di lahan pertanian Desa Gledeg sekitar 60 ha.


Sumber : Jtn Media Network

Petani desa Gledeg Klaten 

(Syarif AR Jtn)

 

Start typing and press Enter to search

a