NGAWI - Kepala Bidang Perkebunan dan Hortikultura, melakukan sosialisasi tentang menyemai harapan baru untuk petani tembakau beralih ke bawang, Rabu (3/9/2025).
Hal tersebut disampaikan Hendro Budi Suryawan pada saat membuka sosialisasi dengan para petani Kecamatan Paron dan Kecamatan Karang Jati pada Minggu yang lalu.
Sosialisasi itu untuk menyimak sebuah peluang yang mungkin bisa mengubah arah hidup dan penghasilan dari mereka.
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Ngawi sudah pernah mensosialisasikan tentang pengembangan Diversifikasi bawang merah bagi petani tembakau.
" Kegiatan yang didanai dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Tahun Anggaran 2025 ini menjadi salah satu upaya konkret pemerintah daerah untuk tidak hanya menanam hasil bumi tetapi juga menanam harapan," ujarnya.
Dalam pertemuan itu, hadir langsung Kepala Bidang Perkebunan dan Hortikultura, Hendro Budi Suryawan sekaligus membuka kegiatan dengan nada optimistis dan realistis.
Hendro menambahkan, Diversifikasi bukan berarti meninggalkan tembakau, tapi kita ingin petani punya pilihan dan punya alternatif. Dan yang lebih penting punya penghasilan tambahan.
" Sosialisasi ini bukan sekadar formalitas. Petani tembakau yang hadir juga mendapatkan edukasi teknis mengenai budidaya bawang merah mulai dari pengolahan lahan, pemilihan benih, hingga penggunaan pupuk yang tepat. Tak hanya teori, bantuan nyata juga dijanjikan: bibit dan pupuk sebagai stimulan awal akan digelontorkan kepada kelompok tani yang siap memulai penanaman Oktober nanti, tepat saat musim labuh datang," tambah Hendro dihadapan para petani dan PPL.
Ditempat yang sama, petani dari Paron, Pak Warno (52 th), saat saya temui di ladangnya beberapa hari setelah sosialisasi, bercerita dengan mata yang penuh semangat.
“ Tembakau itu untung-untungan, Bu. Kadang laku, kadang ndak. Tapi kalau bawang merah, kata penyuluh, pasarnya lebih pasti. Saya pikir, ya kenapa tidak dicoba? Apalagi kalau sudah dibantu bibit dan pupuk,” katanya sambil menunjuk lahan kosong di belakang rumahnya yang sedang ia bersihkan," ujar Pak Warno.
Hendro menceritakan, di balik setiap batang tembakau, ada cerita tentang keteguhan. Tapi juga ada kerentanan. Harga yang fluktuatif, cuaca yang tak menentu, dan biaya produksi yang tinggi membuat petani semakin bergantung pada ‘nasib baik’. Di situlah letak urgensi program seperti ini membuka pintu keluar dari ketergantungan pada satu komoditas.
“ Kami tidak ingin petani hanya bertahan. Kami ingin mereka berkembang,” tegas Hendro saat ditanya tentang arah kebijakan pertanian Ngawi ke depan.
Program ini direncanakan akan difokuskan di dua Kecamatan: Karangjati dan Paron, wilayah yang selama ini dikenal sebagai sentra tembakau. Kini, wilayah itu juga disiapkan menjadi titik tumbuhnya bawang merah, dengan harapan tumbuh pula pendapatan dan stabilitas ekonomi keluarga petani.(Aryo.S)





