PAMEKASAN— Karaton Surakarta Hadiningrat menegaskan kembali kesinambungan hubungan sejarah, genealogis, dan kebudayaan antara Karaton Surakarta dan Madura melalui kegiatan kirab sadranan dan napak tilas sejarah yang dilaksanakan di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.
Kegiatan ini merupakan bagian dari mandat budaya yang dilaksanakan oleh rombongan resmi utusan Sinuhun Pakubuwono XIV Hangabehi sebagai Raja Karaton Surakarta Hadiningrat, yang diwakili oleh Gusti Moeng atau Gusti Kanjeng Ratu Koes Moertiyah Wandansari selaku Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat Karaton Surakarta Hadiningrat.
Rombongan utusan Karaton terdiri dari sekitar 65 orang, yang mencakup sentono dalem dari berbagai perwakilan trah keturunan Pakubuwono XIII hingga Pakubuwono XIV, abdi dalem garap, abdi dalem prajurit, serta ulama Karaton Surakarta Hadiningrat. Kehadiran rombongan ini merupakan representasi resmi institusi Karaton Surakarta Hadiningrat dalam menjalankan amanat sejarah dan budaya dinasti.
Fakta Genealogis: Peran Trah Cakra Adi Ningrat dalam Suksesi Tahta Surakarta
Secara historis, hubungan dinasti antara Surakarta dan Madura telah terjalin sejak abad ke-18, khususnya pada masa pemerintahan Paku Buwono IV, yang sejak masa Adipati Anom dipersuntingkan dengan putri dari keluarga bangsawan Madura trah Cakra Adi Ningrat.
Dari garis permaisuri berdarah Cakra Adi Ningrat tersebut lahir penerus-penerus penting tahta Karaton Surakarta Hadiningrat, termasuk:
Paku Buwono V
Paku Buwono VI
serta jalur genealogis yang kemudian melahirkan Paku Buwono IX
Selain itu, dalam dinamika suksesi berikutnya, keturunan dari permaisuri lainnya juga melahirkan raja-raja Surakarta, yang menunjukkan bahwa hubungan genealogis antara Karaton Surakarta dan Madura memiliki peran signifikan dalam kesinambungan dinasti.
Sebagai bentuk penghormatan kultural, Paku Buwono IV menciptakan karya seni adiluhung Bedhaya Dura Dasih sebagai refleksi penghormatan kepada permaisuri berdarah Madura, sementara Paku Buwono V menciptakan karya seni Ludiro Maduro sebagai penghormatan kepada garis ibu dan warisan genealogis Madura dalam lingkungan Karaton Surakarta.
Kirab Sadranan sebagai Diplomasi Budaya dan Penyambungan Memori Sejarah
Kirab sadranan dan napak tilas yang dilaksanakan di Pamekasan merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Karaton Surakarta Hadiningrat dalam menelusuri, merawat, dan menghidupkan kembali jalur sejarah yang telah terjalin selama ratusan tahun.
Perjalanan kirab tahun ini dimulai dari Rumah Wakil Bupati Pamekasan dan mengikuti jalur historis yang berkaitan dengan perjalanan utusan Karaton Surakarta pada masa lalu.
Dalam kesempatan tersebut, Karaton Surakarta Hadiningrat juga menyerahkan hasil alih aksara dan alih bahasa naskah sejarah perjalanan utusan Surakarta ke Madura kepada Pemerintah Kabupaten Pamekasan, sebagai referensi sejarah resmi dan bagian dari pelestarian warisan budaya bangsa.
Pernyataan Wakil Bupati Pamekasan
Wakil Bupati Pamekasan, H. Sukriyanto (periode 2025–2030), menyampaikan apresiasi dan penghormatan atas kehadiran utusan resmi Karaton Surakarta Hadiningrat.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Pamekasan dan seluruh masyarakat, kami menyampaikan terima kasih dan penghormatan setinggi-tingginya kepada rombongan utusan Karaton Surakarta Hadiningrat serta para keturunan trah Cakra Adi Ningrat yang telah hadir dan melaksanakan kegiatan budaya di Pamekasan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Pamekasan berkomitmen untuk mendukung pelestarian hubungan sejarah dan budaya antara Karaton Surakarta dan Madura.
“Kami siap membuka ruang dan mendukung kegiatan ini secara berkelanjutan, serta berharap kirab dan napak tilas ini dapat menjadi bagian dari agenda budaya resmi daerah yang memperkuat hubungan genealogis, sejarah, dan budaya bagi generasi mendatang,” tambahnya.
Penegasan Peran Karaton Surakarta Hadiningrat sebagai Penjaga Warisan Sejarah
Karaton Surakarta Hadiningrat menegaskan bahwa kirab sadranan dan napak tilas ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan merupakan ikhtiar institusional dalam merawat kesinambungan sejarah, memperkuat identitas budaya, serta menjaga hubungan genealogis yang telah terjalin antara Surakarta dan Madura sejak abad ke-18.
Kegiatan ini juga menjadi manifestasi diplomasi kebudayaan Karaton Surakarta Hadiningrat dalam memperkuat persaudaraan sejarah lintas wilayah dan memastikan kesinambungan warisan dinasti bagi generasi masa kini dan masa depan.
Demikian siaran pers ini disampaikan untuk menjadi perhatian dan publikasi sebagaimana mestinya.
Karaton Surakarta Hadiningrat
GKR Koes Moertiyah Wandansari (Gusti Moeng)
Pengageng Sasana Wilapa dan
Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA)
Karaton Surakarta Hadiningrat







