-->
Pasang Iklan/Promo/Launching Produk/Langganan Pemberitaan/Realease/Press Conference/100 Berita Peristiwa Ter Update Setiap hari



Loading

Jacob Ereste :Menikmati Kopi Pagi di Pasar Muara Karang : Mengelak Sejenak Dari Kegaduhan Yang Menggasak Di Jakarta

- Sunday, January 09, 2022
Dilihat 0 x



SELAMAT PAGI JTN

JAWATIMURNEWS.COM - Acara coffee morning yang intinya ngobral pagi di Pasar Muara Karang telah menjadi tradisi tersendiri bagi Eko Sriyanto Galgendu, selaku penggagas sekaligus pelaku serta salah seorang pemimpin spiritual Indonesia berlangsung di kawasan Pluit Jakarta Utara, karena suasana di Pasar Muara Karang  dirasa memberi spirit yang sulit dijalaskan dengan akal sehat. Namun bisa dirasakan asyik dan nikmatnya yang sulit untuk dilukiskan. 

Agaknya, tradisi semacam ini – sudah untuk kesekian kalinya dilakukan dan diikuti oleh penulis – hingga terkesan telah menjadi bagian dari warna pilihan gerakan kebangkitan kesadaran spiritual yang dilakukan untuk bangsa dan negara Indonesia guna membangun secara bersama-sama peradaban baru manusia di bumi.

Dul dan Nyonya – mantan jurnalis televisi terkemuka di Indonesia tampak asyik bercengkrama bersama sambil membahas tayangan Youtube terbaru yang menyiarkan keprihatinan Eko Sriyanto Galgendu sebagai sahabat Joko Widodo sejak bermukim di Solo sehingga menjejakkan kaki menjadi Walikota Solo, sampai menjabat Gubernur DKI Jakarta hingga akhirmya mejadi Presiden Republik Indonesia. Tragika narasinya Jokowi  tidak mampu keluar dari belenggu yang menjebak di lingkaran Istana Negara. Sehingga Presiden Joko Widodo merasa sendiri dan kesepian, seperti yang direkam tayang oleh Onekonetvwan YouTube Channel.

Obrolan santai sejak pukul 08.00 hingga tengah hari ini, Sabtu, 8 Januari 2022 yang mefrabah beragam topil cukup meluas saling mengurai masalah darai perspektif politik, ekonomi dan budaya bahkan tata pergaulan dalam lingkungan aktivis yang ada di Indonesia – tidak cuma sebatas yang aktivis yang ada di Jakarta. Setidaknya pasar – seperti Muara Karang – disadari memberi banyak inspirasi, bahwa hakikat pasar itu tidak cuma sekadar sebagai tempat distributor antara produsen dengan konsumen, tetapi juga beragam komoditi yang diperlukan untuk memberi ide serta memperoleh gagasan, atau melihat secara bersama-sama tealitas kehidupan nyata dari denyut kehidupan masyarakat dari pinggran Ibu Kota Republik Indonesia yang terus bergerak – tak menyerah oleh himpitan kebutuhan yang terus meningkat nilai harga dan ongkos tebusannya.

Realitasnya, pasar Muara Karang tak hanya menyimpan beragam kuliner yang unik untuk dicoba. Meski kali ini penulis agak kecewa karena tak mendapatkan menu gulai ikan dicampur talas yang sungguh enak dan lezat itu. Jadi gulai ikan berkuah kuning – yang super kental bumbu kunirnya – nikmat juga sambal diyakini memiliki khasiat yang bagus untuk Kesehatan di era Covid-19 yang belum sepenuhnya meredakan rasa kekhawatiran seperti yang dialami banyak orang. 

Pasar Muara Karang yang terletak di kawasan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara sungguh kuat daya pikat bagi banyak pengunjung yang memerlukan bahan panganan dan buah-buahan segar yang diperlukan. Kecuali suasananya yang menarik – keraramaian dan ketertiban cukup membangkitkan rasa yang damai – toh tajuk bincang pagi itu bisa meluas hingga matahari menuding di atas kepala.

Definisi maupun pemahaman filosofid tentang kekuatan panggilingan jagat, dapatlah segera  dibayangkan luasan cakupan pembahasannya, sehingga dapat dipahami memiliki relevansinya dengan masalah kekinian, utamanya dalam upaya membangun gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual bagi bangsa Indonesia yang – untuk sementra ini – menjadi alternatif paling jitu untuk menjawab tantangan bangsa dan negara Indonesia di masa depan. Sebab dari perspektif politik dan ekonomi, carut marut yang terjadi tidak mungkin dapat diselesaikan dari kedua bilik ilmu maupun pengetahuan yang berbasis sama seperti itu. Kecuali masalah bangsa dan negara Indonesia sendiri diakibatkan oleh kebobrokan etika, moral dan akhlak dari para pelaku ekonomi dan pemain politik itu sendiri, inti masalah utamanya tidak sama sekali memiliki basis spiritual yang mampu membimbing dan dapat mengarahkan pada keinsyafan adanya campur tangan Tuhan dalam setiap perbuatan yang dilakukan oleh setiap manusia.

Referensi historis  yang selalu mengingatkan bahwa sejarah itu bukan sekedar untuk menghargai para leluhur yang telah membangun kejayaan suku bangsa Indonesia, tapi lebih dari itu kejayaan suku bangsa nusantara hanya mungkin dapat dipelajari dan kembali digapai dengan melakukan napak tilas, setidaknya sampai pada masa abad ke 7 hingga pada abad ke 14, untuk kemudian menangguk semangat Maha Patih Gajah Mada dalam upayanya mempersatukan semua negeri yang ada di Nusantara sampai terwujud dan kembali mampu menggamit masa kejaaan pada zaman kita sekarang ini.

“Karena untuk menyatukan Nusantara – yang kemudian menjadi Indonesia sekarang ini -- sangat mungkin dilakukan dengan kekuatan bangsa. Karenanya, suku bangsa Indonesia mampu bersatu dengan merekatkan diri melalui gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual”, kata Eko Sriyanto Galgendu sambil menyeruput kopi hangat yang khas dan panas. Itu pula sebabnya, Forum Lintas Agama yang mengacu pada konsep kebersamaan dan kesetaraan yang mengacu pada konsepsi illahiah, pengertian rachmatan lil alamin telah dijadikan acuan dan pegangan. Realisasi nyata dari apa yang telah dilakukan GMRI misalnya membangun budaya silaturrachmi yang guyub dengan semua pihak hingga instansi serta para tokoh agama maupun aktivis pergerakan, bahwa kebersamaan segenap elemen bangsa dapat dipastikan mampu membangun peradaban baru manusia di bumi yang lebih baik dan lebih beradab. Sehingga harmoni alam dan segenap isinya – utama bagi manusia sebagai makhluk paling mulia -- dapat seling memuliakan sesamanya.

Ikatan kekuatan spiritual itu, menurut Eko Sriyanto Galgendu mampu mengikat 17 keturunan berikutnya. Artinya, bila gerakan kesadaran kebangkitan dan kesadaran spiritual dapat berjalan baik dan langgeng, maka dapat dipastikan kedamaian, ketenteraman dan keharmonisan segenap warga bangsa Indonesia – utamanya – dapat menjadi garda terdepan, pelopor atau semacam lokomotif penarik atau pendorong dari percepatan dalam upaya membangun keselarasan peradaban manusia di masa depan yang dimulai oleh bangsa Indonesia dapat segera terwujud. Atas dasar ini, maka bangsa Indonesia akan menjadi pelopor  -- atau model – dari upaya membangun peradaban baru manusia di bumi dengan basis spitritual yang tidak lagi mengabaikan sedikitpun nilai-nilai illahiah sebagai pemilik dan penguasa tunggal atas jagat raya dan seisinya.

Karena itu dalam tahap pengembangan dan realisasi untuk membangkitkan gerakan kesadaran dan pemahaman spiritual, menurut Eko Sriyanto Galgendu sangat dimungkinkan tampilnya para wali spiritual yang menjadi penuntun arah sebagaimana Sunan Kalijaga misalnya yang dapat dipahami bukahlah sebagai penjaga kali dalam arti harafiah, tetapi penjaga tatanan aliran budaya kehidupan, sehingga air penghidupan dapat sampai pada muaranya dengan baik, mencapai tujuan kebahagiaan lahir dan batin.

Jadi pesan Bung Karno “jangan sekali-kali melupkan sejarah” harus dipahami pula oleh segenap bangsa Indonesia bahwa asal mula bangsa Indonesia adalah dari suku bangsa Nusantara yang ada. Sehingga nilai-nilai luhur serta kearifan local yang sangat kaya nilai-nilai spiritual maupun tuahnya itu dapat menjadi energi pembangkit dalam semangat membangun peradaban manusia baru yang lebih unggul dan akan menjadi model yang dapat menata kehidupan manusia di bumi, sebelum akhirnya manusia bermuara di akherat.

Ibarat pasar bagi kaum sufi, pasar yang sesungguhnya itu tidak cuma merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli hingga menjadi salah satu pusat transaksi ekonomi, tetapi juga semacam pusat transaksi budaya sebagai implementasi dari tata pergaulan dalam arti harafiah maupun keilmuan dan pengetahuan maupun pengalaman empirik yang tidak terbukukan dalam khasanah kepustakaan jagat raya. Agaknya, begitulah pasar, dalam pengertian dan kesadaran yang lebih luas, juga telah menginspirasi transaksi budaya, pengertian, pemahaman dan kesadaran bahkan ide serta gagasan sufistik sambil menikmati kopi pagi di tengah hingar-bingar pasar dalam arti sesungguhnya, atau sekedar dalam khayalan sufisme yang menerawang masa depan yang indah. Minimal di pagi buta ini kami bisa sejenak menghindar dari kegaduhan yang terus menggasak di Jakarta.

Jakarta,  8 Januari 2022


Sumber : Jtn Media Network 

(Apin)

 

Start typing and press Enter to search

a