-->
Pasang Iklan/Promo/Launching Produk/Langganan Pemberitaan/Realease/Press Conference/100 Berita Peristiwa Ter Update Setiap hari








Loading

Catatan Akhir Tahun Yang Perlu Dibaca Ulang Bersama Maha Guru Spiritual dan Eko Sriyanto Galgendu

- Saturday, January 01, 2022
Dilihat 0 x

 



ARTIKEL

Bekal spiritual untuk mendekat kepada Tuhan itu kata guru spiritual saya  yang sangat sufistik adalah kejujuran, rendah hati, ikhlas,  sabar, dan selalu tampil sederhana, tidak berlebihan, lapang dada, ikhlas, suka berbagi dan menolong siapa saja, termasuk anak kecil sekalipun. Apalagi untuk para yatim piatu.

Adapun pantangannya, cukup tidak pernah berbohong -- terurama pada diri sendiri -- pantangan untuk  mengambil hak atau milik orang lain, apalagi mencuri, menilep atau korup serta menipu rakyat.

Kecuali itu, tidak ria dan tidak sombong, tiada rasa dengki dan jumawa apalagi angkuh. Kuat dan teguh menahan amarah termasuk lapar dan dahaga seperti melakukan puasa yang menjadi salah satu cara melatih dan memperkuat diri dalam bentuk lahir dan batin.

Semua itu tetap harus diikuti oleh sikap dan sifat yang tidak tamak, tidak rakus, tidak kemaruk. Sebab sebanyak apapun harta banda serta duit yang dimiliki tidak akan berarti apa-apa bila tidak memiliki manfaat bagi orang lain. Pun nanti tidak bisa ditransfer atau dibawa masuk ke liang kubur.

Tamak, rakus dan kemaruk itu tidak cuma makan dan minum, menyalah gunakan jabatan dan wewenang, menekan dan menindas bawahan, punya pacar atau simpanan idaman yang banyak, itu sekedar birani seperti yang juga dimiliki oleh binatang. Karena dengan sikap dan sifat serta laku yang diridhoi langit itu harus amanah mawaddah dan warachmah. Sebab laku spiritual atau jalan sufi itu memang senyap dan hening, cukup lelaku saja yang nyata dengan rasa nyaman dan  ketenteraman hati. Maka itu semua nikmat itu juga dengan suka rela ingin dibagi kepada siapa pun, tanpa rasa terpaksa atau dipaksa.

Begitulah laku kaum sufi atau  para  spiritualis meniti jalan sirotal musthakin hingga mampu  menggamit hidayah, asyik menikmati mawaddah dan warachmah, tiada  pernah berhenti dan lelah sampai ke pemakaman indah bertaman asri dengan batu nisan yang terukir cantik oleh diri sendiri semasa hidup.

Hingga akhirnya para peziarah berdatang ingin berkirim do'avdan shalawat ingin  mengetuk langit sampai Tuhan membuka pintu

istana-Nya penuh senyum terkulum, penanda suka cita bahagia. Dan semua peziarah pun ikut menikmati suka ria kegembiraan itu.

Mukira, kau pun terlelap nyenyak dalam nikmat bersamaku, setelah lelah berjalan dalam kesunyian yang senyap.

Banten Timur, 31 Desember 2021


(Apin)

 

Start typing and press Enter to search

a